Entradas populares

25 S – 26 D

Tak ada lagi madu yang harus ku reguk
semuanya telah tumpah oleh prinsip dan idealisme
kepulan awan – awan lamunan
teduhi panas kegundahan;
Ku teguk anggur kehampaan
arak – arak pelampiasan
di lorong – lorong
yang biasanya matahari terlambat bangun
rembulan malam kesepian tanpa dzikir dan do’a

“ 25 September yang penuh melodi puisi
26 Desember yang penuh kata – kata berduri ”

Tasikmalaya, 2003

Siluet Saung Apung

Ingin aku telanjangi dirimu

dengan kata-kata berwarna-warni

Ingin ku tanam bunga putih, kuning, merah

di kanan kiri sejadah hidupmu

Ingin ku hiasi rona langit wajahmu

dengan pelangi kebahagiaan

Ingin ku semai mutiara kehangatan

diantara kegundahan, kesedihan dan kekecewaan

yang engkau alami.

Ingin ku cangkul kebencianmu dengan rasa sayang

Ingin ku jilat pahit rasa hatimu

dan kutukar dengan madu selai keceriaan

Tapi, siapakah aku

yang begitu berani menusuk jantungmu?

Maafkan aku yang tak selalu

bisa menyinarimu dengan matahari dan bulan

sementara aku kegelapan

diantara racun-racun kehidupan

Ayo Bangkit

Tanah airku bongkok
Tertatih-tatih, luka,
Jatuh berguling-guling,
Menganga, kering kerontang,
Pincang berlari,
Tergusur keserakahan
Kemunafikan
Kemiskinan.

Mari kita singsingkan baju keegoisan
Jabat erat tangan kebersamaan
Sucikan hati
Untuk meraih cita
Demi ibu pertiwi.

2003

How did?

You raped my heart
My soul
My feel
My time
My ambition
And you raped everything that i had

Oh...
How did you rape my self?

2003

KEGUNDAHAN

Pada tiap sujudku
Pada tiap do’aku
Pada tiap tadzaburku
Pada tiap muhasabahku
Dirinya kegundahanku

Ya.. Robby
Sungguhkah kegundahan ini?
Tahukah dia seberapa besar kegundahan ini ?
Bila ajal menghampiri diri
Sudah tahukah dia?

2003

Wajah

Ingin kutatap sinar wudhunya pada sebuah syair,
walau sekali
Tapi matanya laksana petir menyambar guratan hati
dan hijabnya yang mengasingkanku pada sebuah imaji.

Aku kehilangan makna pada pendewasaan bait
karena lukisan wajah yang mungil
senyum yang terkulum pada manis bibirnya
luntur di sudut – sudut jalan kemarin lusa.

2003

Menantimu

Ketika Begonia semerbak wanginya menusuk pundi-pundi
dan tembolok komunis kelaparan, linglung di taman hyasin
aku menjadi plagiator mimpi bisu
ketika dingin embum mulai bertengger di atas ester
aku membeku pada mawar yang mulai bermekaran.

Aku menantimu
saat sakura bersimfoni pada molekul-molekul salju.

Flos Feminus

Flos Feminus
singkaplah tabir keagunganmu
pada alunan adzan fajar
sembari mengeja plasma-plasma kesucian
kemudian tikam mimpiku dengan gemma kesejukan
mulailah ketika jernih embun tadzabur pada opacus

Flos Feminus
perasaanku kian bermekaran
saat surya semakin terik sinarnya
perasaanku kan berdendang
saat rembulan menghias senyumnya

Flos Feminus
pada lahan-lahan glaber di sanubariku
isilah dengan kerlipan rotatus
sebab kaulah corolla terindah di taman firdaus

Flos Feminus

Sendiri Dulu

Kembalikanlah jernih embun fajar;
yang telah ku adzani dengan takbir
seiring iqomat menyabit sembilu senja;
kepadaku.

Larung yang terpasung
jangan pernah kau basuh dengan tahlil dan amin
biarlah maghrib yang menyelimuti teriknya mentari
dan isya yang meninabobokan rembulan.

Imsyak kan mengakhiri kesunyian malam
sementara kita berpuasa pada pusara keunguan.

2003

Buscar

 

Labels

maulana rubida Copyright © 2011 | Tema diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger